Membaca Ringkas Ulang Orang Jawa dari Tiga Orientalis
· 6 menit baca · Surya
“Penduduk Jawa memiliki watak yang tenang, sabar, dan teratur, dengan sistem masyarakat yang sangat bergantung pada ikatan desa dan tradisi agraris yang diwariskan turun-temurun. Peradaban mereka dibentuk oleh perpaduan antara lapisan kepercayaan animisme kuno, pengaruh Hindu-Buddha yang mendalam, serta ajaran Islam yang kemudian meresap dalam tata krama dan kehidupan sehari-hari.” -- Sir Thomas Stamford Raffles(1781-1826), The History of Java(Terjemahan Narasi 2008).
Ketika masih sebagai siswa SMA, pengenalan saya tentang budaya orang Jawa bersumber dari dua hal: fiksi dan fakta.
Pada aras fiksi, saya menemukan dua pribadi paradoks, tokoh Irawati dalam novel Cintaku di Kampus Biru(1972), Widuri dalam Kugapai Cintamu(1974) dan disusul Terminal Cinta Terakhir(1974) dari karya trilogi Ashadi Siregar.
Tokoh Irawati, propetipe perempuan priyayi ekspresif dan Widuri sebaliknya, prototipe Jawa abangan impresif.
Pada aras fakta, saya menjelang akhir masa SMA, pernah memacari gadis Jawa, putri dari priyayi yang jadi pejabat bupati.
Dari kedua persepsi personal ini, wawasan tentang orang Jawa memperoleh penjelasan yang cukup bagi saya bagaimana memahami orang Jawa.
Untuk membaca ulang wawasan lama saya tentang orang Jawa kontemporer, tiga buku berikut saya coba ulas seringkasnya tanpa memberi tafsir selain apa yang dikemukakan oleh ketiga sumber literasi kebudayaan tersebut.
Dengan kata lain, membaca ulang identitas kebudayaan Jawa adalah sebuah perjalanan menelusuri lapisan-lapisan sejarah yang saling bertumpuk, membentuk karakter manusia yang sering kali dinilai penuh teka-teki, luhur, sekaligus kompromistis.
Dalam narasi sejarah barat yang orientalis dan kajian antropologi, persepsi tentang Jawa dibentuk oleh pengamatan luar(etik).
Pengamatan ini mencoba memetakan bagaimana keyakinan kuno, kosmologi kehinduan, dan ajaran Islam bertali-temali dalam denyut nadi masyarakat Jawa.
Melalui tiga karya monumental ini -- masing-masing, The History of Java(1817) dari Thomas Stamford Raffles, The Religion of Java(1960) karya Clifford Geertz, serta Mengislamkan Jawa(2013) dari M.C. Ricklefs — kita diajak menyaksikan evolusi cara pandang terhadap kebatinan dan kepribadian masyarakat Jawa dari imperialis kolonial hingga analisis ilmiah modern.
Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal atas wilayah koloni Jawa(1811-1816) di bawah bendera Inggris, memiliki minat besar pada etnografi.
Dari minat ini, setelah merevitalisasi lembaga ilmu pengetahuan ketika itu, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, ia ikut merampung karyanya, The History of Java(1817).
Dengan buku ini, Raffles hadir sebagai pengamat dari masa kolonial awal yang terpesona sekaligus memandang Jawa dengan kacamata orientalisme yang khas.
Bagi Raffles, basis kultural Jawa pada dasarnya dibentuk oleh pengaruh peradaban Hindu-Buddha yang sangat kuat dan keagungan tradisi istana.
Sementara itu, terhadap Islam ia beranggapan sebagai lapisan baru kebudayaan yang menutupi jati diri kuno tersebut.
Ia menggambarkan kebudayaan Jawa sebagai warisan luhur yang ditandai oleh adat istiadat yang amat halus, di mana cita rasa kesenian, tata krama, dan tatanan sosial mencerminkan keindahan peradaban masa lalu.
Dalam pandangannya, sifat dasar keagamaan orang Jawa bukanlah ortodoksi agama Abrahamik yang kaku, melainkan sikap fleksibel yang menempatkan tradisi lokal di atas dogmatisme.
Raffles mencatat betapa ajaran Islam di Jawa telah mengalami pelunakan, di mana elemen pra-Islam tetap menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari.
Juga, menciptakan sebuah ruang budaya di mana hukum-hukum lokal dan penghormatan terhadap leluhur berpadu secara halus dengan tradisi baru.
Berikut, pola akomodasi budaya Jawa, kemudian dirumuskan secara teoretis oleh antropolog Clifford Geertz(1926-2006), murid Talcott Parsons dari Harvard dan melakukan penelitian lapangan -- dikenal sebagai Modjokuto Project -- di daerah Pare, Kediri, Jawa Timur antara tahun 1953 hingga 1954.
Hasilnya, dibukukan dalam The Religion of Java(1960) melalui konklusi trikotomi kultural yang legendaris: abangan, santri, dan priyayi.
Namun, Geertz sendiri membedah Jawa bukan lagi sekadar sebagai objek eksotis, melainkan sebagai arena interaksi antarvariasi keagamaan yang sarat dengan dinamika sinkretisme.
Menurut Geertz, inti dari basis kultural Jawa terletak pada konsep ilmu(ngelmu) dan pencarian keselarasan batin.
Keselarasan batin ini dikenal dengan istilah toto-tentram, slamet-slamet hingga kawruh kasunyatan.
Dalam kelompok abangan, sinkretisme termanifestasi secara nyata melalui ritus slametan, sebuah upacara makan bersama yang berfungsi sebagai sarana integrasi sosial dan penolak bala.
Hal ini kelak dipopulerkan antropolog Umar Kayam dalam esai-esainya, Mangan Ora Mangan Ngumpul.
Dengan itu, doa-doa Islam berdampingan dengan sesaji bagi roh-roh penjaga lingkungan (danyang).
Geertz menekankan bahwa bagi manusia Jawa, menjaga keteraturan sosial dan ketenangan batin(tentrem) jauh lebih utama daripada ketajaman doktrin.
Sintesis budaya ini menghasilkan suatu Weltanschauung -- di mana orientasi religi berfokus pada keseimbangan psikologis dan sosial -- yang meminimalkan potensi konflik dengan menyerap berbagai pengaruh keagamaan ke dalam satu wadah tradisi yang toleran.
Atau, ada juga dalam istilah yang lebih populer ojo dumeh bahkan filsafat cinta, witing tresno jalaran soko kulino, yang dalam fiksi diambil Ashadi Siregar untuk perasaan cinta Widuri pada Faraitodi, mahasiswa asal Manggarai(NTT) dan berakhir pada Joki Tobing, orang Batak dalam Terminal Cinta Terakhir.
Yang terakhir pernah difilmkan pada 1977, Widuri diperankan Marini dan Joki Tobing oleh Rendra. Bahkan Rendra merekam fiksi novel itu ke dalam beberapa puisinya, dalam antologi Pembangunan dalam Puisi(1977).
Namun, interpretasi sinkretisme yang cenderung statis dari Geertz mendapat peninjauan ulang yang tajam dari M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 Sampai Sekarang
(2013).
Profesor Merle Calvin (M.C.) Ricklefs(1943-2019), kelahiran Amerika, akademisi dan profesor sejarah dari universitas terkemuka, Monash University dan Australian National University.
Ricklefs, dalam buku asli Islamisation and Its Opponents in Java(2012), melacak proses Islamisasi dalam rentang sejarah yang panjang, menegaskan bahwa Islamisasi di Jawa bukanlah fenomena dangkal atau sekadar penyerapan simbolis belakangan.
Ia menunjukkan bagaimana pada rentang abad ke-16 hingga akhir abad ke-18 telah terbentuk apa yang ia sebut sebagai "sintesis mystik Jawa" (Javanese mystical synthesis).
Sintesis ini merupakan basis kultural yang unik, di mana menjadi orang Jawa dan menjadi Muslim dianggap sebagai dua hal yang tak terpisahkan.
Sejatinya, orang Jawa memeluk identitas keislamannya secara mendalam, mempercayai rukun Islam dan Al-Qur'an.
Namun, di lain hal tetap mengintegrasikannya dengan kosmologi lokal, praktik mistik, dan penghormatan terhadap kekuatan gaib tanah Jawa.
Ricklefs membongkar asumsi bahwa keberadaan tradisi lokal adalah bentuk keislaman yang "tidak murni."
Akan tetapi, sebagai bukti keluwesan proses evolusi kebudayaan yang dinamis sebelum polarisasi politik dan pembaharuan keagamaan pada abad ke-19, justru menjelma jadi pemecah-belah kesatuan tersebut.
Membaca ketiga karya ini secara berdampingan memberikan pemahaman holistik bahwa sinkretisme dan ketahanan kultural orang Jawa bukanlah tanda ketidakteguhan iman.
Melainkan pula, sebuah strategi kebudayaan untuk bertahan dan mengolah perbedaan.
Dari romantisme Raffles yang menemukan keagungan Hindu-Buddha di balik tirai keislaman dan analisis antropologis Geertz yang memetakan artikulasi tradisi dalam struktur sosial.
Sementara, rekonstruksi historis Ricklefs ikut menguraikan proses dialektis Islamisasi, yang tampak jelas bahwa kebudayaan Jawa adalah sebuah organisme yang terus bertumbuh.
Basis kultural orang Jawa senantiasa bertumpu pada pencarian keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos.
Melalui kemampuan menyerap, mengolah, dan menyelaraskan berbagai pengaruh luar tanpa kehilangan akar filosofis manusianya, orang Jawa berhasil membentuk sebuah identitas religio-kultural yang kaya, kompleks, dan senantiasa relevan dalam mengarungi pergeseran zaman.
Manado, 1 Oktober 2026 -- di lapak martabak Cak Narto.
#credit foto orang Jawa di alun-alun keraton sebagai tradisi kamisan atas perbuatan AI.
Lagu Tul Jaenak Koes Plus rilis 1974. Liriknya menyinggung tentang realitas kehidupan sosial, pentingnya kerja keras -- "arep mulyo kudu marsudi"(jika ingin mulia/sukses harus berusaha keras) -- kewaspadaan terhadap pengaruh buruk atau "buto ijo ojo digugu" sebagai refleksi atas kekayaan alam nusantara.


